Pola Asuh dan Pembentukan Karakter Santri di Pondok Pesantren

Main Article Content

Ina Ambarwati

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena yang terjadi di pondok pesantren Nurul Huda Desa Mandiangin Kecamatan Mandiangin Kabupaten Sarolangun, dimana pola asuh yang diterapkan masih belum sepenuhnya membentuk karakter santri karena masih ditemukan adanya santri yang bermasalah seperti adanya pencurian dan pelanggaran tata tertib. Adapun juga santri yang dikeluarkan karena tindakan santri itu sendiri yang sudah tidak bisa dikendalikan sehinggan pihak pesantren akhirnya pernah mengeluarkan santri. Dari fenomena tersebut diatas maka dalam penelitian ini, peneliti akan mengfokuskan lebih jauh dan mendalam mengapa pola asuh dalam membentuk karakter santri belum bisa menjadikan karakter santri terbentuk sepenuhnya.


Jenis penelitian yang di gunakan adalah penelitian lapangan (field research) dengan kualitatif deskriptif, dengan mendeskripsikan Pola Asuh Dalam Membentuk Karakter Santri. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dan snowball sampling. Pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan dokumentasi dengan teknik analisis data yaitu reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data.


Dari penelitian ini maka penulis menemukan bahwa pola asuh yang diterapkan adalah tipe otoriter dan tipe demokratis. Kendala yang dialami pondok pesantren Nurul Huda dalam membentuk karakter santri, kendala pada santri adalah niat, pengamalan ilmu, adaptasi santri dan latar belakang santri. Dan kendala pada pengasuh adalah pengasuh tidak disiplin, kurangnya pengontrolan dan kurangnya pengasuh. Sedangkan upaya yang dilakukan dalam menghadapi kendala. Upaya mengatasi kendaa pada santri adalah pengontrolan, pengganjaran (Hukuman dan penghargaan), pembelajaran akhlak dan pendekatan emosional. Dan upaya mengatasi kendala pada pengasuh adalah pengontrolan, pemberian hadiah dan evaluasi. Hasil dari pola asuh yang dilakukan di Pondok Pesantren Nurul Huda adalah terbentuknya karakter jujur seperti; santri tidak menyontek, tidak berbohong dalam perbuatan dan ucapan, dan jujur ketika diberi amanah. Dan karakter displin seperti santri yang masuk tepat waktu, sholat berjamaah, melaksanakan jadwal kegiatan, dan mentaati tata tertib. Walaupun ada karakter jujur dan disiplin sudah terbentuk tetapi ada juga santri yang belum memiliki karakter tersebut seperti karakter tidak jujur; memalsukan uang tabungan dan berbohong. Sedangkan karakter tidak disiplin santri seperti santri telat masuk kelas, tidak tepat waktu, pelanggaran tata tertib seperti mencuri, tidak sholat berjamaah, membawa handphone dan berpacaran. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, bisa diketahui bahwa hasil dari karakter jujur dan karakter disiplin santri yang sudah terbentuk di pondok pesantren Nurul Huda menunjukkan ada santri yang sudah memiliki karakter dan ada juga yang belum memiliki karakter yang diinginkan. Hal ini membuktikan bahwa pola asuh yang diterapkan belum sepenuhnya mampu membentuk karakter santri. Hal tersebut menjadikan suatu tantangan baru bagi para pengasuh agar lebih baik lagi dalam melakukan pembinaan karakter.

Article Details

Section
Bimbingan dan Konseling