Melihat Attitude and Behavior Manusia Lewat Analisis Teori Planned Behavioral

Main Article Content

Dani Sartika

Abstract

Psikologi merupakan ilmu tentang prilaku atau aktivitas-aktivitas individu. Perilaku atau aktivitas-aktivitas individu (Branca, 1964; Morgan, dkk.,1984; Sartain, dkk., Woodworth dan Marquis, 1957). Perilaku tersebut dalam pengertian yang luas, yaitu prilaku yang tampak (over behavior) dan prilaku yang tidak tampak (inner behavior). (Walgito,2002) Mempelajari kapan sikap (attitudes) mempengaruhi perilaku (behavior) adalah suatu topik yang sangat menarik. Attitude and Behavior dalam Psikologi biasa dipadankan dengan kata sikap dan perilaku. Salah satu teori yang banyak digunakan adalah Theory of Reasoned Aaction (TRA) yang dikemukakan oleh Fishbein dan Ajzen (1975) teori ini kemudian dikembangkan oleh Ajzen (1985) menjadi Teori of Planned Behavior (TPB) yang ditujukan untuk memprediksi perilaku individu secara lebih spesifik.


 


Tulisan ini melihat bagimana individu bersikap dan berperilaku akan tetapi tidak mampu . Sikap tidak selalu konsisten dengan perilaku. Mengapa sikap tidak selalu konsisten dengan perilaku? Artikel ini menjelaskan tentang bagaimana memahami dan memprediksi perilaku dengan melihat teori-teori sikap dan perilaku serta mendalaminya dengan analisis Planned Behavior membuat prediksi terhadap sikap dan perilaku yang diputuskan oleh individu.


 


Hasil penelusuran terhadap teori-teori Psikologi bahwa kaum behavioris memandang  perilaku sebagai respon terhadap stimulus dimana keadaan dari stimulus itu sendiri sangat berpengaruh dan individu seolah tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan perilakunya. Terdapat sebuah pandangan yang mengatakan bahwa sikap merupakan prasyarat untuk terjadinya perilaku, namun harus ditekankan bahwa hal ini tidak lantas membuat perilaku bergantung seratus persen pada sikap. Intinya perilaku individu bisa saja tidak sama dengan sikapnya.


Sementara Teori Planned Behavior menegaskan bahwa sikap, norma subyektif dan kontrol perilaku yang dirasakan merupakan pendahulu dari niat perilaku. Pada gilirannya, niat perilaku, bersama dengan kontrol perilaku yang dirasakan, dapat digunakan untuk memprediksi perilaku (Ajzen, 1991).

Article Details

Section
Bimbingan dan Konseling